• Indonesia
  • Kadate
  • Amelia Antoh: Perjalanan seorang teknisi lapangan dari Papua ke North Sea

Amelia Antoh: Perjalanan seorang teknisi lapangan dari Papua ke North Sea

Tanggal: 24 November 2017

Di tengah tantangan dan kesulitan yang muncul menghadang, terdapat banyak kesempatan untuk Amelia Betty Antoh atau yang lebih akrab disapa Amel. Kunjungan dari BP ke Universitas Negeri Papua pada tahun 2007 merupakan titik awal perjalanan kariernya yang telah membawanya ke wilayah North Sea di Inggris.

“Waktu itu [BP] masuk di kampus, ada lowongan dan tes penerimaan. Sebenarnya kita juga tidak tahu apa ini BP, tetapi kita masukin saja,” jelas Amel singkat pada suatu perbicangan beberapa waktu silam.

Tampaknya, rasa ingin tahu wanita ini akan adanya sebuah perusahaan yang sedang membangun kegiatan operasi gas alam cair di tanah kelahirannya itu telah memberinya kesempatan untuk mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Dan terlepas dari kekhawatiran orang tuanya akan ketertarikannya di industri berisiko tinggi tersebut, Amel berhasil melewati seluruh proses seleksi dan memutuskan untuk bergabung dengan BP. Mungkin optimisme dan sikap positif yand dimiliki Amel selama bekerja di kilang Tangguh LNG itulah yang kemudian mengantarkannya pada sebuah tawaran pekerjaan di ladang minyak raksasa BP di North Sea.

“Awalnya, sebenarnya ingin kuliah di luar negeri. Bayangin dari TK bahkan semuanya di Jayapura. Tapi yang diizinkan orang tua hanya sampai di Manokwari,” kata Amel, 34 tahun, sambil tertawa.

Menjadi anak pertama dari enam bersaudara tentunya bukan hal yang mudah bagi anak dari seorang polisi Polda Papua ini. Bahkan Amel harus merelakan sebagian mimpinya untuk sampai di posisinya sekarang. Dari mengurungkan niatnya untuk bersekolah di luar negeri, Amel kemudian mengungkapkan bahwa studi Masternya di Universitas Cendrawasih pun tidak terselesaikan karena adanya masalah internal keluarga. Oleh karena itu, Amel harus membantu orang tuanya dalam membiayai pendidikan kelima adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Selain itu, ditambah dengan latar belakang ayahnya yang pernah bekerja di suatu perusahaan migas di Sorong, dapat meyakinkan orang tuanya untuk bekerja di industri ini pun cukup sulit pada awalnya.

“Setelah lulus, langsung training untuk menjadi Field Technician di Bontang dari 2006 akhir sampai 2008 awal dimana Tangguh sudah di tahap commissioning,” tuturnya sembari menerangkan bahwa peran serta posisinya telah ditetapkan sejak awal masuk. Dan meskipun memiliki latar belakang di agronomi pertanian, pelatihan yang ia jalani selama dua tahun ini bagaikan batu loncatan baginya untuk memahami cara pengoperasian Tangguh.

Proyek Tangguh LNG sendiri pertama kali on-stream pada pertengahan tahun 2009. Merupakan suatu momen yang mendebarkan bagi Amel untuk dapat menyaksikan dan ikutserta dalam kegiatan gas di kilang Tangguh yang pertama. Sebagai onshore receiving facility (ORF) field technician di operation gas supply, ia bertanggung jawab untuk menyalakan suar gas pada malam hari dan juga memastikan tidak ada gas yang bocor dari tangki maupun pipa LNG.

Selama beberapa tahun, Amel selalu bekerja di lapangan. Sampai pada tahun 2013, dia dikembangkan untuk menjadi control room technician (CRT), atau distributed control system (DCS) operator – dimana merupakan posisi yang dimilikinya saat ini. Tugasnya termasuk mengantarkan gas dari sumur ke onshore, memulai dan mematikan mesin, persiapan dan pemulihan untuk perawatan dan juga terlibat dalam kondisi darurat.

Dan tiba-tiba, telepon itu pun datang.

“Bulan Mei kemarin tiba-tiba ditelpon pas lagi off-duty, pagi-pagi ditawarin assignment opportunity untuk ke North Sea,” katanya masih tak percaya, sambil membayangkan betapa dinginnya nanti disana.

Dengan berkantor pusat di Aberdeen, kegiatan BP North Sea beroperasi di bagian timur laut Britania Raya. Wilayah ini merupakan suatu area yang sedang di kembangkan oleh BP sejak penemuannya pada tahun 1970 yang mana memiliki persediaan minyak dan gas yang signifikan secara global. Mulai dari akses dan eksplorasi, penilaian sumber daya, pengeboran, komisioning, produksi sampai dekomisioning dilakukan disini. Prospek bisnis yang menjanjikan membuat BP menetapkan tujuan untuk dapat melipatgandakan produksi menjadi 200.000 barel per hari pada tahun 2020.

“Awalnya dibutuhkan sebagai field technician saja, tapi terus dibutuhkan isolation authority (IA),” ujarnya lagi seraya menjelaskan bahwa penugasannya di BP North Sea akan berjalan selama enam bulan, dengan rotasi kerja setiap tiga bulan.

Selain diberi tahu akan baiknya mendapatkan kesempatan emas seperti ini untuk karirnya, wanita yang berasal dari Sorong ini juga berharap bahwa tinggal di luar negeri akan meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa Inggris. Ia pun mulai terlihat cemas saat memikirkan dirinya akan menghabiskan beberapa waktu di tengah laut. Namun pada saat yang bersamaan, Amel sadar bahwa tidak semua orang dapat merasakan hal yang sama.

Dalam bekerja kita harus serius, apalagi kita menangani suatu yang berbahaya. Dalam bekerja harus jujur, disiplin, dan jangan takut untuk speak up kalau ada masalah.
Amelia B. Antoh
Bagi Amel, setiap orang yang ia temui memiliki peranan penting dan pengaruh yang besar dalam hidupnya. Nampaknya keluarga telah menjadi sumber motivasi utama baginya untuk terus bekerja keras dan berusaha melakukan yang terbaik. Amel menikah pada tahun 2014. Suaminya adalah seorang wiraswasta di Jayapura dan 100% mendukung Amel dalam pekerjaannya. 

Ketika ditanya tentang rencana kedepannya, Amel menjawab, “Yang jelas kita lakukan sebisa kita saja lah dalam pekerjaan kita. Do the best lah. Kita lakukan bagian kita dengan baik dan kalau ada tambahan-tamabahan yang lain yang memang kita bisa kerjakan, ya kita kerjakan. Kalau itu nanti dianggap sebagai nilai plus dan ada kesempatan yang lain, ya apa salahnya kita mencoba kan.”

Dan untuk teman-teman teknisi dan semua orang yang ingin bergabung dengan industri minyak dan gas, Amel berpesan, “Dalam bekerja kita harus serius, apalagi kita menangani suatu yang berbahaya. Dalam bekerja harus jujur, disiplin, dan jangan takut untuk speak up kalau ada masalah.”